Tampilkan postingan dengan label Pelabuhanratu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelabuhanratu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Ujung Genteng

Setelah sekian lama hanya jalan seputaran jonggol, cianjur, cipanas, maka hari Jumat malam kemarin, tetap dengan team (sebenarnya kawan jalan he..he..) kita berangkat ke Ujung Genteng, 2 motor, saya naik PZZO dan kawan saya naik MIO.
Rencana sebenarnya berangkat jam 12 malam hari Jumat tangga 14 Oktober, tapi karena temen ketiduran akhirnya berangkat jam 01.30, molor satu setengah jam. Berangkat kita dari Bojong Kulur langsung menuju ke bogor melalui jalur cibubur-cibinong-bogor-ciawi. Kemudian di Sukabumi ambil ke kanan melalui jalur biasa menuju ke Pelabuhan Ratu. Setelah menembus dinginnya malam, di temani bulan yang jernih jam 4.20 subuh memasuki wilayah Bojonggalih, dan karena kantuk yang tak tertahan, akhirnya kita putuskan istirahat sejenak, sambil menyeruput secangkir kopi.
Setelah istirahat secukupnya kita langsung melanjutkan perjalanan ke arah ujung genteng yang berjarak sekitar 77 kilometer dari pertigaan jalan raya Pelabuhan Ratu. Jalan ini cukup menantang karena penuh kelokan di tambah dengan banyaknya kerikil bekas tambalan aspal. Jam setengan pagi berhenti sebentar di kebun teh Kiara Dua, udara cukup dingin dengan angin yang lumayan kencang. Setelah foto-foto secukupnya akhirnya melanjutkan perjalanan dengan jalanan berkelak-kelok yang seperti ga ada habisnya.
Dan akhirnya jam setengah delapan pagi kita tiba di Ujung Genteng, di sambut keramaian pagi nelayan pulang melaut, dan karena masih ngantuk akhirnya saya cari tempat untuk bersandar dan memejamkan mata sejenak, karena memang sebelumnya ga sempat tidur.
Akhirnya kita mau memanjakan perut, kita cari warung yang bisa bakar ikan, dan sambil nunggu bakar ikan dan masak nasi, kita nikmati sepoi angin pantai pagi sambil ngobrol-ngobrol dengan warga setempat yang memperkenalkan diri sebagai abah Ibrahim, yang menurut pengakuannya sudah berumur 84 tahun, tapi masih tampak sehat. Sambil dia cerita kalau waktu dia muda, di ujung genteng masih banyak banteng yang kelihatan. Tapi begitu menjadi ramai dan hutan juga sudah tidak ada, maka hewan-heawan besar itu juga menghilang. Setelah makan siang ikan bakar, akhirnya kita melanjutkan perjalanan ke Curug Cikaso, yang terletak di wilayah Surade, jadi kita balik arah lagi ke arah Surade.
Dari Surade jaraknya masuk kedalam 8 Kilometer akhirnya kita sampai di curuk Cikaso, dimana untuk mencapainya harus naik perahu atau jalan kaki sejauh 500 meter menyusuri sawah. Dan ternyata curugnya dalam keadaan kering karena di daerah ini belum turun hujan. Akhirnya kita nikmati suasana dengan minum kelapa muda yang cukup segar disiang yang panas.
Jam 12 siang hari Sabtu kita berangkat lagi ke arah pulang, tetapi dengan jalur yang bebeda, yaitu kita lewat kebun teh Tugu / Cimenteng yang sebelumnya kita sama sekali belum pernah lewat atau dapat informasi seperti apa jalannya. Tapi kita memang tidak ada target waktu dan rute, maka kita ambil saja jalur tesebut.
Dan ternyata jalur ini sangat menantang dengan kelokan-kelokan yang cukup memacu adrenalin.  Tepat jam 1 siang kita mampir sejenak dedepan papan nama perkebunan teh Cimenteng.
Kemudian kita lanjutkan perjalanan ke arah sukabumi, dengan rencana rute nanti langsung ke arah Cianjur di lanjutkan ke Jonggol.
Jam 4.40 sore kita memasuki kota Cianjur dan tanpa berhenti lagi, langsung melanjutkan perjalan ke arah Jonggol, yang walaupun jalannya sudah bagus, tapi karena kita juga sudah lelah akhirnya perjalanan kita nikmati dengan santai saja, sambil di temani senja dan angin dingin pegunungan. Dan akhirnya tepat jam 8 malam saya bisa berhenti di rumah dengan selamat dengan membawa oleh-oleh pemandangan alam yang luar biasa disertai sedikit kaki keram :) dan jarak di Spido PZZO menunjukan jarak tempuh 530 Kilometer. Kapan lagi ya???( foto-foto di FB : http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150368778241812.378756.538386811&type=1&l=572f671e36 )

Senin, 02 Agustus 2010

(Bermaksud) Ikut Serentaun


Hari sabtu, 31 Juli 2010.

Seren TaunHari ini untuk yang kedua kalinya saya mau menghadiri Serentaun di Ciptagelar, setelah yang pertama 2 tahun yang lalu.

“Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda, seperti Desa Kenekes Baduy, Desa Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Kampung Naga, dan Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris ini diramaikan ribuan masyarakat sekitarnya, bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mancanegara.”

Waktu itu saya berdua bersepeda motor, mengambil jalur Bogor - Leuwiliang - Kebun teh Nirmala - Cipetey - Gn Halimun - Ciptagelar.

Semula perjalanan lancar, sampai di Cipetey jam 4 sore, dilanjut masuk areal hutan lindung gunung Halimun. Jalan basah dan berlumpur didalam hutan merupakan tantangan utama. Dan tepat jam 8 malam akhirnya kita menyerah, karena perjalanan kurang 10 kilo lagi, tapi tenaga kita sudah habis terkuras.

Setelah berdiskusi berdua, kita putuskan untuk meninggalkan motor di tengah hutan, dan kita kembali ke perkampungan dengan jalan kaki dan hanya berbekal penerangan dari handphone.
Setelah 1 jam berjalan akhirnya sampai diperkampungan, dan dengan bantuan penduduk setempat, motor berhasil dievakuasi. Akhirnya malam itu juga kita putuskan untuk balik pulang, ikutan seren t aun gagal!

Tahun ini, bebekal pengalaman lalu, kita ganti jalur, melalui Bogor - Sukabumi - Pelabuhan Ratu - Cikakak - Sirnarasa - Ciptagelar. Sari tempat tinggal saya, Bekasi, ke pelabuhan ratu kita tempuh dalam waktu 5 jam. Jam 6 sore, setelah istirahat sejenak, kita lanjut ke Ciptagelar, walaupun disertai hujan rintik-rintik.

Walaupun begitu, di sela-sela kabut masih terlihat keindahan alam yang luar biasa, kombinasi sempurna antara perbukitan dan hijaunya pepohonan. Sekitar jam 7 malam, sampailah saya di desa Sirnarasa, cikakak yang berjarak kurang lebih 30 km dari Palabuhanratu, ibukota Kabupaten Sukabumi, desa ini berada pada ketinggian antara 700–1.000 m dpl.

Dan disini saya mengalami sedikit kecelakaan (walaupun sebenarnya bisa sangat fatal), dimana saya terpeleset saat melewati jembatan yang sedang diperbaiki, dan hanya di pasang 2 lembar papan kayu. Dan beruntung saya, badan saya terdangkut di pinggiran papan, sehingga posisi saya menggantung dengan motor menimpa tubuh saya, dan 3 meter dibawah saya, jelas sekali saya dengar suara aliran air sungai berbatu. Dengan bantuan penduduk setempat saya berhasil di angkat bersama sepeda motor saya, dengan hanya luka lecet dan lebam.

Dan setelah mengucapkan terimakasih, dan berbasa basi sebentar, saya melanjutkan perjalanan menuju Ciptagelar yang kurang lebih tinggal 10 km lagi. Motor kita geber menaiki jalanan berbatu, yang sangat licin karena terus di guyur hujan. Namun setelah kurang lebih berjalan 2 km, kedua motor kami overheating sehingga kehilangan tenaga. Dengan sisa-sisa tenaga kita coba melanjutkan perjanan, tetapi apa hendak dikata, tenaga motor kami habis, demikian juga tenaga kami. Walaupun dalam guyuran hujan, tubuh saya serasa terbakar.

Dan sekali lagi, dengan berat hati kami memutuskan kembali turun, dengan perasaan dan badan yang remuk redam. Dan untuk kedua kali, kesempatan saya ikut Seren Taun kali ini, gagal!

Kemudian kami memacu motor kami menembus malam, menuruni gunung menuju Pelabuhan Ratu lagi, mencari tempat nongkrong yang nyaman, karena kebetulan hari ini malam minggu. Dan kami berdua menikmati malam di Pelabuhan Ratu dengan segala hingar bingar hiburan malamnya (dikesempatan lain saya akan ceritakan), dan tepat jam 3 subuh meluncur pulang.

Semoga tahun depan bisa sukses ikutan Serentaun!